Cuaca tidak terlalu bagus saat pesawat yang kami tumpangi dari Pekanbaru hendak mendarat di Bandara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang. Waktu tempuh yang seharusnya hanya satu jam dari Pekanbaru, Riau, molor sekitar 15 menit. Aku sempat was-was, namun Fokker 50 milik Riau Airlines yang kutumpangi akhirnya bisa mendarat dengan mulus.
Kawasan Laut Cina Selatan pada waktu-waktu tertentu memang kurang bersahabat untuk diterbangi. Entah mengapa, bulan Agustus yang seharusnya menjadi musim kemarau di kota ini telah berubah menjadi musim hujan. Dan mendung yang menggayut langit Tanjung Pinang, ibukota Propinsi Kepulauan Riau (Kepri), ini telah menjadi kesan pertama kedatangan kami. Kota Tanjung Pinang yang tengah sibuk membangun, terlihat basah oleh gerimis.
Terletak di ujung timur Pulau Bintan, Tanjung Pinang baru ditetapkan sebagai ibukota Kepri pada tahun 2002. Bisa dimaklumi kalau kondisi bandara udaranya pun masih sangat sederhana dibandingkan propinsi lain. Tapi Kepri sebenarnya memiliki bandara tersendiri untuk skala internasional di Pulau Batam, yakni Bandara Hang Nadim. Tapi adalah buang waktu bila kami transit lebih dahulu di Batam dan mesti naik feri lagi ke Pulau Bintan. Apalagi, maskapai Riau Airlines yang mayoritas sahamnya dikuasai Pemerintah Propinsi Riau telah melayani rute langsung Pekanbaru-Tanjungpinang.
Saat ini, hanya ada dua pesawat yang mendarat di Bandara Fisabilillah Tanjung Pinang. Para pengunjung yang berasal dari tempat-tempat selain Pekanbaru masih lebih banyak yang memilih pintu masuk Bandara Hang Nadim Batam. Selanjutnya mereka bisa menyeberang laut dengan angkutan feri umum menuju pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjung Pinang.
Tanjung Pinang memang belum menjadi kota besar. Tapi fakta itu telah memberikan keuntungan dari segi persaudaraan masyarakatnya yang masih kental. Masyarakat Melayu yang ramah dan murah senyum dapat dijumpai hampir di setiap tempat. Mereka senang meluangkan waktu memberikan petunjuk jalan atau informasi lain yang diperlukan. Mendung di langit telah ditutupi keceriaan warganya yang serba peduli.
Setiap sudut kota sedang dihiasi berbagai proyek pembangunan. Wilayah kota yang memiliki kontur perbukitan ini rupanya sedang berusaha mensejajarkan diri dengan dengan daerah lain, terutama menyusul kemajuan Pulau Batam (yang sesungguhnya juga masuk dalam wilayah Kepri), yang jauh lebih dulu berkembang karena status otorita dan free trade zone-nya di masa lalu.
Patung Tertinggi di Asia Tenggara
Selain pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik yang dilakukan terus menerus, Tanjungpinang juga tengah giat mempromosikan pariwisatanya. Beberapa objek baru yang hampir rampung kini dijadikan sebagai lokasi wisata tambahan. Salah satunya adalah Vihara Avalokitesvara Tanjung Pinang, tempat persembahyangan umat Buddha, yang memiliki patung Dewi Kwan Im duduk tertinggi di Asia Tenggara. Bangunan ini akhirnya menjadi lokasi menarik bagi wisatawan luar, terutama dari China, Singapura, Malaysia dan Korea.
Vihara Avalokitesvara Tanjungpinang dibangun di atas lahan seluas 10 hektar. Di dalam bangunan peribadatan, patung Dewi Kwan Im menjulang sepanjang 16,8 meter, terbuat dari bahan tembaga dan sepuhan kuningan emas yang didatangkan langsung dari China. Sejak kehadiran vihara yang diresmikan pada Juli 2009 lalu ini, jumlah tamu mancanegara tercatat meningkat ke Tanjung Pinang. Mereka umumnya datang untuk beribadah.
Berlokasi di KM 14 menuju arah Tanjunguban, bangunannya terlihat sangat megah. Di sekelilingnya terdapat kebun sayur yang membuat panorama menjadi sejuk dan hijau. Rupanya, selain sebagai wisata rohani, vihara ini juga mempersembahkan wisata agro. Jenis sayuran yang ditanami di sini mulai dari kacang panjang, kangkung, daun singkong dan lainnya. Kebun ini telah menyuplai sayur untuk kebutuhan vihara sendiri.
Pantai Trikora
Objek wisata alam terbaik ada di Kabupaten Bintan. Bertetangga dengan Kota Tanjung Pinang, Kabupaten Bintan kerap dijadikan sebagai tujuan wisata tidak hanya oleh masyarakat lokal, namun juga tamu mancanegara. Pantai dengan keindahan alam, deburan ombak dan pasir putih ini kerap diumpamakan sebagai Bali kedua.
Banyak pantai yang bisa dikunjungi di Pulau Bintan. Dua di antaranya adalah Pantai Lagoi dan Trikora. Jika Pantai Lagoi dikelola secara profesional oleh Singapura, maka Pantai Trikora sebaliknya. Pantai berpasir putih ini masih dikelola oleh masyarakat setempat dengan sistem tradisional. Namun beberapa penginapan seperti resort sudah mulai menjamur di sepanjang bibir Pantai.
Propinsi ke-32 ini memang memiliki keunggulan suasana pantai dan bahari yang tak akan mudah dihitung dengan jari. Saat berkunjung ke Pantai Trikora, kami menyaksikan beberapa anak muda Tanjung Pinang tengah mengadakan permainan tradisional menyambut Kemerdekaan. Lokasi yang indah dan suasana yang asyik ini rupanya kerap mereka jadikan sebagai arena bermain.
Sepanjang garis Pantai Trikora dihiasi batu-batu berukuran raksasa sebagaimana yang ditemukan di Pulau Belitung. Uniknya, letak bebatuan tersebut tidak hanya berada di bibir pantai, melainkan sampai ke persawahan penduduk yang berada di luar garis pantai. Keunikan ini tidak ditemukan di Kepulauan Bangka Belitung yang paling kesohor dengan panorama batunya sekalipun.
Hermes Agro Resort
Tanah yang berbukit-bukit dengan hawa sejuk di beberapa lokasi dan panas di lokasi lainnya membuat Pulau Bintan sangat pas ditanami dengan beraneka buah dan sayur. Salah satu wisata agro yang kini dipersiapkan secara serius di sini adalah Hermes Agro Resort.
Berada di KM 25, Hermes Agro Resort menghadirkan suasana resort yang berbeda dengan Bintan Resort yang dikelola perusahaan-perusahaan Singapura di kawasan utara pulau itu. Kalau Bintan Resort cenderung mengandalkan fasilitas moderen, akomodasi hotel, dan pantai, maka Hermes Agro Resort tampil dengan suasana pedesaan yang tenang, akomodasi yang dekat ke alam, dan resort yang luas. Buah yang ditanam di sini sangat beragam, mulai dari jeruk, kelapa, jambu, nenas, rambutan hingga buah naga. Bahkan, jika Anda termasuk dalam golongan penikmat jengkol dan petai, di sini silakan memetik sendiri sepuasnya. Hermes Agro Resort juga mengajak para tamunya aktif dengan menyediakan empang-empang ikan yang dapat dipancing setiap saat. Tentu tidak hanya memetik sayur dan memancing saja yang bisa dinikmati di sini. Dengan luas lahan mencapai 40 hektar, kegiatan wisata juga bisa dilakukan dengan outbound, kuliner, kegiatan bahari, serta menikmati atraksi alam pantai yang mempesona terutama di pagi dan sore hari.
Untuk akomodasi dan penginapan, Hermes Agro Resort menyediakan ratusan kamar hotel dan villa berstandar internasional. Meski dilengkapi dengan fasilitas moderen, namun suasana resort dibuat menyerupai perkampungan kecil dengan nama yang berbeda di tiap bloknya. Misalnya, ada Kampung Bali, di mana nuansa Pulau Dewata dibentuk sedemikan rupa dengan memanfaatkan patung dan ukiran Bali asli. Ada juga Kampung Air, di mana hadir suasana Melayu pantai yang dikelilingi dengan kolam segar yang terus bergemericik tak henti. Adapun Kampung Manado direpresentasikan dengan rumah-rumah penginapan kayu yang eksotik.
Aku juga ingin membagi saat yang paling kusukai di resort ini. Yakni saat bola matahari baru muncul separuh dari garis laut, ketika udara terasa sesegar embun di perbukitan-perbukitan resort, dan angin menyertakan sensasi laut. Inilah saatnya olah raga, berlari kecil mengelilingi kebun, mengganggu burung-burung yang bimbang menembus kabut pagi. Bau tanah yang basah dan getah rumput yang baru dipotong rasanya kok jauh lebih harum dari sebotol Cartier…